Chapter 5 – Petunjuk | The Main Heroines are Trying to Kill Me

Chapter 5 – Petunjuk Bagian 1 “… Tuan Muda, sudah pagi. Tolong bangun.” “mhmmm … 5 menit …” “Hari ini merupakan hari kita bertemu teman

Aezi

Cover The Main Heroines are Trying to Kill Me (COVER) @aezife
Cover The Main Heroines are Trying to Kill Me (COVER) @aezife

Chapter 5 – Petunjuk

Bagian 1

“… Tuan Muda, sudah pagi. Tolong bangun.”

“mhmmm … 5 menit …”

“Hari ini merupakan hari kita bertemu teman kelas kita untuk pertama kalinya. Jika anda terlambat …”

“Aku tidak peduli … biarkan saja aku tidur lebih lama …”

“…”

Aku terjaga sepanjang malam karena takut ditusuk Kania saat tertidur.

Tentu saja, ketika Kania terbangun dan mencoba membangunkanku, Aku dengan sengaja pura-pura tertidur untuk mengganggunya.

Mungkin ini terlihat tidak penting, tetapi setiap kali hal-hal seperti ini jadi poin False Evil, maka dunia bisa terselamatkan.

Chapter 5 - Petunjuk | The Main Heroines are Trying to Kill Me

Untuk mengatasi masalah yang tengah aku hadapi sekarang, aku harus segera pindah ke fase berikutnya. Dengan kata lain, aku perlu berusaha keras untuk melakukan hal-hal yang lebih jahat dari sebelumnya.

“… Ha, kalau begitu saya akan pergi lebih dulu. Saya harap saya tidak terlambat …”

“Ayo pergi bersama.”

“… Ya?”

“Jika kamu pembantuku, harusnya kamu pergi bersamaku. Tunggu di sini sebentar.”

“….”

Dia telah dilatih sebagai butler di keluarga kami sejak kecil. Itulah kenapa dia punya gangguan obsesif-kompulsif untuk mengikuti peraturan-peraturan yang ditetapkan dan sangat benci melanggarnya.

Jadi jika aku membuatnya terlambat di hari pertamanya … aku bisa mendapat cukup banyak poin.

“Tuan Muda. Tolong biarkan saya membantu anda …”

“Apakah aku anak kecil? Diamlah. Aku bisa mengatasinya sendiri.”

Aku menghentikan Kania yang ingin membantuku, lalu mulai mengepak barang-barangku sepelan mungkin.

“Saya mohon, Tuan Muda …”

“….”

Kania melihatku sambil berkeringat dingin, memintaku untuk buru-buru.

“Mari kita lihat … buku … peralatan menulis … hmm, haruskah aku membawa pena bulu atau pulpen?”

“Tuan Muda, kita kehabisan waktu. Ayo bawa semuanya lalu-“

“Mana yang kamu suka, Kania?”

“… Pulpen.”

“Oke, kalau begitu aku akan membawa pena bulu.”

“!”

Setelah menghabiskan waktu untuk sejenak, Kania menundukkan kepalanya dan tiba-tiba bergumam.

“… Tuan Muda, kita hanya punya satu menit lagi. Tolong biarkan saya pergi duluan.”

“Tunggu, aku belum memutuskan bros mana yang akan kupasang.”

“A-Apa saya … berbuat sesuatu yang salah?”

Aku dengan santainya mengacak-acak brosku ketika melihat Kania menatapku dengan ekspresi penuh benci sambil menanyakan sesuatu.

Aku ingin memberitahunya jika mencoba membunuhku itu sebuah kesalahan. Tetapi aku memutuskan untuk tetap diam sejak itu semua karena karma dan kesalahanku.

“Jika anda membertahu saya, saya akan memperbaikinya. Jadi tolong, maafkan saya …”

“Kania, kamu suka pulpen, kan?”

“… Ya.”

Saat dia menjawab, aku mengambil pulpen yang berharga baginya yang terus dia simpan di sakunya. Aku memutar-mutar pulpen itu sambil menjawab pertanyaannya.

“Aku dengar kalau pulpen ajaib bisa menulis dengan sendirinya, apakah itu benar?”

“… Benarkah?”

“Ya, bagus sekali bukan? Karena sekarang kamu tidak perlu memegang pulpen saat menulis.”

“Jadi begitu. Tetapi kenapa hal itu dibahas sekarang …”

“Omong-omong, hanya karena pulpen bisa menulis sendiri bukan berarti itu lebih baik dari pemiliknya, kan?”

Aku meraih bahu Kania dengan satu tangan dan berhenti memutar-mutar pulpen di tangan yang lain. Setelah itu aku mulai menunjuk-nunjuk dadanya menggunakan pulpen.

“Jika pulpen merasa tertarik dengan fakta ia bisa bergerak dan menulis sendiri, kemungkinan dia akan dibuang. Di akhir, pulpen hanyalah alat, tidak peduli seberapa bagus sihir yang diberikan padanya.”

“….”

“Jadi, jika kamu tidak ingin dibuang, jangan bertindak semaumu, Kania. Jika kamu tetap lalai, seperti mengirimkan telegram pada ayahku padahal aku tidak memintanya seperti yang terjadi sebelumnya, aku akan membuangmu dan adikmu dari keluargaku bagaimanapun caranya.

“Sa-Saya mengerti ….”

Kania membalas dengan giginya terkatup saat aku menyelesaikan perkataanku dengan melemparkan pulpennya ke sudut ruangan.

Aku melihatnya dengan ekspresi lega, lalu menatap ke samping pada jam di belakangnya dan membuka mulutku setelah mengonfirmasi kita sudah terlambat.

“Baiklah kalau begitu, ayo pergi perlahan.”

“… Baik.”

“Bawakan tasku. Aku hanya akan membawa bros lalu menyusulmu segera.”

“… Baiklah.”

Jadi aku membiarkannya membawa tasku dan mengirimnya keluar ruangan. Setelah itu, aku segera terjatuh dan mengerang, sebagaimana aku menutup mulutku dengan kedua tanganku sambil batuk–batuk.

“Cough! Cough! Ugh …”

Tampaknya saat aku menyentuh bahu Kania dengan tanganku, aku memasukkan life force setara satu hari padanya. Kelihatannya aku terlalu berlebihan melakukannya.

Setelah duduk di lantai sambil batuk-batuk beberapa saat, aku memegang ranjang kasur untuk menopangku berdiri lalu menghampiri pintu.

“… Haa.”

Dan sekarang waktunya aku pergi ke kelas A, di mana semua heroine yang mencoba membunuhku berkumpul.

.

.

.


Bagian 2

“… Kalian berdua, sudah 10 menit berlalu sejak kelas dimulai. Apa saja yang kalian lakukan?”

“….”

Setelah aku memasuki kelas A, wali kelas langsung menasihati kami.

“… Frey Raon Starlight, dan Kania. Kalian berdua dihukum pengurangan 10 poin karena terlambat.”

“… Ugh!”

“Terserah maumu.”

Saat aku menuju tempat dudukku, berpura-pura mendengarkan ucapan profesor, aku diam-diam melihat jendela sistem yang ada di depanku.

Chapter 5 - Petunjuk | The Main Heroines are Trying to Kill Me

‘… Ya, aku tidak punya pilihan. Ini tidak terhindari. Aku minta maaf, Kania.’

Jika Kania dibiarkan seperti ini, dia akan menghadapi ‘Krisis Pertama’-nya dalam beberapa bulan ke depan.

Di timeline sebelumnya, dia hampir tidak bisa mengatasi krisis itu, dan dia secara permanen mengalami rasa sakit yang amat menyiksa dan halusinasi pendengaran.

Jadi, untuk menghambat datangnya ‘Krisis Pertama’, kemampuan adiknya harus dibangunkan lebih awal.

Alasan kenapa aku sengaja melakukan hal jahat seperti ini adalah karena adanya item di sistem ‘Item Store’ yang bisa membangunkan kemampuan adiknya Kania lebih cepat dari yang seharusnya.

Ketika poin False Evil terakumulasi dalam suatu jumlah tertentu, tahap sistem yang berikutnya akan terbuka, membuatku bisa mengakses ‘Item Store’ itu.

Karena itu, untuk mencegah Kania dikutuk dan menderita rasa sakit abadi serta ilusi mengerikan selama hidupnya, aku tidak punya pilihan selain mendapatkan poin darinya sendiri, yang saat ini paling rentan dan orang yang posisinya paling dekat denganku.

Sebagai referensi, satu dari alasan terbesar kenapa dia bunuh diri di hadapanku di timeline sebelumnya adalah karena rasa sakit yang tidak tertahankan dan ilusi pendengarannya.

Jadi, seperti yang sistem nyatakan, ini adalah pilihan yang ‘tidak bisa dihindari’ untukku.

— Chomp, chomp ….

Saat aku merenungkan itu, aku mendengar suara yang aneh. Di samping, aku melihat Kania menggigit mulutnya sangat keras hingga dia mengeluarkan banyak darah. Kelihatannya dia mempunyai perilaku seperti itu karena rasa bersalahnya tentang terlambat di hari pertama, dan mendapat pengurangan poin sebagai hasilnya.

‘… Nanti, aku harus menaruh salep yang bagus di tasnya tanpa diketahui siapapun.”

“Kalau begitu sekarang semua murid kelas A telah hadir, biarkan saya memperkenalkan diri.”

Sementara itu, profesor yang menatap kami mulai menuliskan namanya dengan huruf besar di papan tulis, lalu membuka mulutnya untuk memeriksa seluruh murid kelas A.

‘… Nama saya Isolet Arham Bywalker. Saya adalah profesor yang akan menjadi wali kelas kalian untuk setahun ini. Oleh karena itu, saya harap kerja sama kalian semua.”

Aku bergumam pada diriku sendiri saat aku menatap dia setelah perkenalan sekilasnya.

‘… Sudah sangat lama sejak terakhir kali aku melihatnya.”

Isolet, profesor yang menjadi wali kelas kelas A di tahun pertama, merupakan satu-satunya orang yang benar-benar profesor di akademi. Dialah satu-satunya harapan dan hati nurani terakhir yang dimiliki akademi.

Dia merupakan putri tertua dari Keluarga Bywalker. Nenek moyangnya merupakan seorang Sword Saint yang membantu leluhurku, sang Hero, untuk mengalahkan Raja Iblis ribuan tahun yang lalu. Dia merupakan orang yang menjanjikan bahkan di keluarganya, yang selalu menghasilkan ksatria luar biasa. Dia juga akan dikenal sebagai Generasi Kedua Sword Saint.

Telah meningkat pesat sejak usia dini dengan keterampilan luar biasa, Isolet ditawari posisi sebagai Wakil Komandan Ksatria Kekaisaran dan jabatan Profesor Akademi di waktu bersamaan beberapa bulan yang lalu.

Umumnya, orang normal manapun akan memilih posisi Wakil Komandan Ksatria Kekaisaran yang mana dijunjung tinggi dan jalan kesuksesan sebagai seorang ksatria. Namun Prof. Isolet, yang saat ini sedang melihat kami dengan lirikan dingin, membalikkan ekspetasi semua orang dan memilih posisi profesor di akademi.

Alasannya karena sifat terus terang dan rasa keadilannya yang tinggi.

Dia memilih menjadi profesor di akademi dengan aspirasi untuk mengembangkan generasi baru daripada menjadi Wakil Komandan dari Ksatria Kekaisaran yang korup dan busuk yang tidak lain hanyalah boneka bagi mereka yang berkuasa. Karena itu pula dia cekcok dengan keluarganya, karena tidak terima akan pilihan yang dia pilih. Sekarang dia menjadi tidak diakui oleh keluarganya.

Karena itu, sepertinya dia tidak akan menambahkan nama ‘Bywalker’ di sesi pengenalan lagi.

Namun hanya karena dia tidak mengenalkan diri sebagai seorang ‘Bywalker’, tidak berarti skill dan harga dirinya akan menghilang.

Dia cukup ahli menundukkan kebanyakan murid di akademi, karena dia punya kekuatan untuk melakukannya.

“… Kalau begitu, ayo mulai kelasnya.”

Kebanyakan murid menghelanafas atau bergumam ketika dia mengumumkan kelas dimulai dengan suara kering.

Ini karena biasanya hari pertama sekolah tidak membahas pelajaran, tetapi lebih ke beradaptasi dengan perkenalan, menceritakan petualangan, dan sebagainya. Namun tidak pernah ada kelas yang mengikuti kurikulum seperti miliknya.

Ya, kelemahan Prof. Isolet adalah sikapnya dengan prinsip yang gigih. Mungkin itu juga alasan kenapa dia dan Kania bisa bergaul dengan baik.

‘… Namun, dia tetaplah seorang guru yang patut dihormati.’

Ketika akademi dihancurkan, satu-satunya orang yang menahan pasukan Raja Iblis dan melindungi para murid tidak lain hanyalah Prof. Isolet.

Dengan kata lain, seperti yang aku bilang sebelumnya, dia merupakan ‘hati nurani’ dan ‘harapan’ dari akademi yang korup ini.

Berdasarkan buku ramalan, karena hal semacam ini, kupikir dia dipanggil sesuatu seperti ‘Sub-Heroine’ di dunia asal leluhurku.

Itu adalah sesuatu yang tidak terlalu kumengerti, tapi lagipula, dirinya yang seorang ‘sub’ heroine cukup menguntungkan. Jika ingatannya dari timeline sebelumnya juga kembali karena dia seorang heroine utama … aku mungkin sudah bertarung mati-matian dengannya sekarang.

“… Ka-ka-kamu … bagaimana kamu bisa di sini …!?”

“…?”

Diwaktu yang bersamaan, aku merasakan hawa dingin di belakangku. Ketika aku menengoknya, aku melihat Saintess Perloche sedang memelototiku.

“….”

Kania, yang duduk di depanku, juga menatapku dengan mata penuh kebencian. Dan begitulah, badai salju menerjang kelas ini.

“Fokus! Kalian semua, berkonsentrasilah! Aku tidak terlalu baik untuk merawat kalian semua hanya karena kalian masuk ke Kelas A!”

Tatapan mereka membuatku berkeringat dingin. Kemudian Prof. Isolet berteriak sambil memukul papan tulis, mengalihkan perhatian para heroine utama. Akupun menghela nafas dan bergumam pelan.

“… Sekarang tiga dari lima sudah berkumpul.”

Meski tanpa kehadiran tunanganku yang sedang berada di luar negeri dan putri kekaisaran yang seharusnya hadir terlambat hari ini, atmosfir di kelas ini sudah terasa dingin.

Kupikir sudah saatnya membeli hot pack.
(TL/n: Hotpack itu semacam pemanas (mungkin).)

.

.

.


Bagian 3

“Baiklah, kelas berakhir di sini.”

Prof. Isolet, layaknya seorang pendisiplin, menyelesaikan kelas tepat saat bell istirahat terdengar.

Terima kasih untuk ini, aku terbebas dari mendengarkan pelajaran yang telah aku ketahui dan mulai meregangkan badan di tempat duduk. Tiba-tiba Kania, yang duduk di sampingku, berdiri dari kursinya dan menuju ke suatu tempat.

Saat aku melihatnya sambil menjulurkan leherku, aku mendengar suara seseorang dari belakang.

“… Pe-Permisi, Tuan Frey?”

“…?”

Ketika aku mendengar suara melengkingnya, aku membalikkan wajah dan melihat Saintess Perloche sedang berdiri di belakangku dengan ekspresi grogi di wajahnya.

“… Maukah anda mengunjungi katedral setelah pulang nanti? Saya ingin memberikan berkah saya pada anda, anggota dari keluarga sang Hero.”

Chapter 5 - Petunjuk | The Main Heroines are Trying to Kill Me

Segera setelah dia memberikan saran kepadaku sambil berkeringat, jendela sistem muncul di depan mataku. Terima kasih karenanya, aku tidak punya pilihan lain selain bergumam pelan dengan ekspresi absurd di wajahku.

‘… Apa-apaan ini? Semacam pertanda pembunuhan?”

Dia dikenal sebagai ‘Saintess Putih Murni’ karena kebaikan dan kemurniannya yang diakui satu benua.

Dengan kata lain, dia terlalu naif untuk membuat skema seperti ini.

“… Jendela Status.”

Chapter%205%20 %20Petunjuk%20 %20The%20Main%20Heroines%20are%20Trying%20to%20Kill%20Me%20(4)

Aku menutup mataku rapat-rapat dan membuka jendela statusnya sambil bergumam sepelan mungkin saat melihat wajah Perloche yang gemetaran. Setelah itu aku membuka mata dan melihat bagian status pasifnya.

‘… Berkah dari sang Dewa Matahari?’

Berkah dari sang Dewa Matahari bukanlah sesuatu yang bisa didapatkan makhluk biasa. Berkah ini hanya diberikan pada Saintess yang diakui Dewa Matahari, dan doa tulus dari mereka akan dikabulkan.

Dengan berkah semacam ini, nilai kemampuan lain jadi tidak berarti. Hari ini, Perloche bisa dengan mudah membuatku berlutut dan merobek-robek tubuhku.

Bahkan ada suatu dongeng legendaris yang mengatakan seribu tahun yang lalu, Saintess yang menjadi anggota party sang Hero, menggunakan berkahnya untuk menyobek tubuh bagian kiri sang Raja Iblis.

“… Tidak.”

“… Ugh.”

Jika aku menuruti kemauannya, bisa jadi aku dipersembahkan sebagai pengorbanan kepada Dewa Matahari. Karena itulah aku menolaknya, membuatnya memasang ekspresi terkejut.

“Tu-Tunggu sebentar … Tuan Frey, jangan seperti ini. Sepertinya anda tidak tahu betapa berharganya berkah yang saya berikan. Berkah saya bahkan tidak bisa dibeli dengan uang …”

“… Oke, tapi aku tidak membutuhkannya.”

“Ya? Tetapi …”

“Menyingkir dari hadapanku. Aku benci fanatik agama.”

“U-Uh, permisi … jadi …”

Saat aku bicara seperti itu dengan ekspresi terganggu, Perloche berkeringat dingin dan mulai tergagap-gagap.

Seperti yang bisa dilihat, ‘Saintess Putih Murni’ ini tidak hanya memiliki hati yang bersih, tapi pikirannya juga bersih.

Dengan kata lain, dia hanyalah seorang pemuja Dewa Matahari yang sangat taat dan hanya tahu doktrin-doktrinnya. Terus terang, dia hanya berguna sebagai alat kekuatan suci saja. Dia bahkan datang padaku tanpa memiliki rencana lain. Jadi ketika aku menolaknya, skemanya sudah berakhir.

‘… Tch, karena kamu sangat bodoh, gereja dengan mudah memanfaatkanmu.’

Kemampuannya yang berupa kekuatan suci meluap-luap hingga sistem melabelinya sebagai holy power daripada mana. Kekuatan itu didambakan oleh para tetua gereja. Mereka berani menipu Saintess dengan kata-kata manis agar dia tetap menurut.

Pada akhirnya, gereja hanyalah pelayan dewa yang cukup gila untuk memberikan berkahnya pada seorang heroine yang ingin membunuhku daripada menolongku, yang berjuang mati-matian untuk menyelamatkan dunia. Belum lagi mereka tidak muncul sama sekali ketika Raja Iblis mengamuk di timeline sebelumnya.

Karena itulah gereja perlu direformasi. Rasanya seperti meski aku berdiam diri, entah bagaimana aku tetap mendapat banyak hal yang perlu ditangani.

“Uh, a-ah … um …”

“… Menyingkir dari hadapanku, dasar pengguna holy power sialan.”

“…!”

Setelah aku menegurnya dengan keras karena suasana hatiku memburuk, Saintess itu menundukkan kepalanya sambil menahan air mata lalu pergi kembali ke kursinya.

Sejujurnya, aku khawatir tentang apa yang harus kulakukan jika dia sangat putus asa untuk membunuhku, dan aku bersyukur ternyata dia tidak begitu.

“Uh, bagaimana mungkin dia masih hidup … bocah sialan itu … apakah dia sudah bersekongkol dengan Raja Iblis di ‘Krisis Pertama’ secepat ini …?”

Perloche menerima kekalahannya dan kembali ke tempat duduk, lalu Irina yang duduk di sebelahku, mulai panik menggumamkan sesuatu.

Setahun kedepan dia akan menderita ‘Kehabisan Mana’, jadi mungkin aku perlu merawatnya seperti Kania.

Jika dia diturunkan dari Kelas A atau dikeluarkan, mungkin akan ada beberapa masalah di ‘skenario’ nantinya.

‘Kalau begitu, Putri Kekaisaran dan tunanganku adalah orang yang paling berbahaya …’

Begitulah, mendengar ucapan Perloche yang merencanakan sesuatu di kursi belakang, dan Irina yang terus bergumam di sampingku, aku perlahan bersandar di kursiku dan mulai memikirkan tentang sang putri dan tunanganku.

Setelah merenungkannya sejenak, aku mendapatkan kesimpulan.

‘… Haruskah aku absen sesaat?’

Meski dengan adanya sistem, aku tidak percaya diri dapat mengalahkan mereka berdua.

.

.

.


Bagian 4

“Ketemu, pulpenku.”

Sementara Frey memikirkan cara mengatasi sang Putri Kekaisaran dan tunangannya, Kania kembali ke asramanya Frey dan mengambil pulpen yang terbaring di atas lantai.

“… Aku pasti akan membunuhmu, bajingan. Tidak peduli apapun.”

Dia memeluk pulpennya dengan erat, yang dia lupa bawa karena terlambat. Pulpen ini merupakan harta paling berharga baginya, dihadiahkan adiknya ketika mereka masih muda. Setelah itu dia kembali ke gedung utama akademi sebelum bel kelas berbunyi …

“… Hah?”

Segera, dia melihat ada selembar sprei putih saat dia memiringkan kepalanya lalu mendekatinya.

“… Apa ini?”

Sidik jari bernoda darah masih terlihat di sana.


Navigasi

< Sebelumnya  |  Selanjutnya >

DAFTAR CHAPTER

Aezi

Saudaraku ...

Related Post

Tinggalkan komentar